Adat Perkawinan Suku Dayak

img_20121019213726_508165a6acbaf

Seorang gadis Dayak boleh menikah dengan pemuda suku bangsa lain asal pemuda itu bersedia dengan tunduk dengan adat Dayak. Pada dasarnya orang tua suku Dayak berperanan penting dalam memikirkan jodoh bagi anak mereka, tetapi cukup bijaksana dengan menanyakan terlebih dahulu pada anaknya apakah ia suka dijodohkan dengan calon yang mereka pilihkan. Kalau sudah ada kecocokan, ayah si pemuda datang meminang gadis itu dengan menyerahkan biaya lamaran yang disebut hakumbang Auh. Pada orang Dayak Ngaju umumnya mas kawin berbentuk uang atau perhiasan. Mas kawin di kalangan suku Dayak biasanya tinggi sekali, karena besarnya mas kawin dianggap sebagai martabat keluarga wanita.

Upacara perkawinan suku Dayak sepenuhnya ditanggung oleh keluarga pihak wanita. Untuk pelaksanaan upacara perkawinan dipotong beberapa ekor babi, sedangkan memotong ayam untuk hidangan dianggap hina. Pada upacara perkawinan pengantin pria biasanya menghadiahkan berbagai tanda kenangan berupa barang antik kepada abang mempelai wanita. Sebagai pernyataan terima kasih karena selama ini abang telah mengasuh calon istrinya. Tanda kenangan yang oleh orang Dayak Ot Danum disebut sapput itu berupa piring keramik Cina, gong antik, meriam kecil kuno, dan lain-lain.

Tari Belian Bawo

aldiriandana_DSC_0421

Tarian ini sebenarnya adalah Upacara adat yang sering dibawakan pada acara Upacara adat suku Dayak yang berdiam di Kutai diberi nama Tari Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya.

Setelah upaca adat tersbut diubah menjadi tarian dan dibuat agak moderen serta diberi macam macam asecories tari ini sering disajikan pada acara-acara pemerintahan di Kaltim untuk acara Tarian penerima tamu dan acara kesenian lainnya seperti pada saat Erau tempong tawar,Erau pelas,dan even even daerah yang menonjolkan kesenian Kaltim.Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq yang masih dilestarikan sampai sekarang.

Macam Tato Suku Dayak

tato4

Tato memang sudah menjadi trend di dunia luar sana, jadi simbol kebebasan memodif diri dan tubuh, tapi di negara kita Indonesia tato sudah ada sejak dahulu.

Jangan terkejut jika masuk ke perkampungan masyarakat Dayak dan berjumpa dengan orang-orang tua yang dihiasi berbagai macam tato indah di beberapa bagian tubuhnya. Tato bagi masyarakat Dayak bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam.

Sebab tato bagi masyarakat Dayak tidak boleh dibuat sesuka hati sebab ia adalah sebahagian dari tradisi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang.

Oleh karena itu, ada peraturan tertentu dalam pembuatan tato baik pilihan gambarnya, struktur sosial seseorang yang memakai tato maupun penempatan tatonya.

Meskipun demikian, secara realitasnya tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai “obor” dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.

Bagi suku Dayak yang tinggal di sekitar Kalimantan dan Sarawak Malaysia, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tatoo di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin arif dalam ilmu pengobatan.

Bagi masyarakat Dayak Kenya dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah kuat mengembara. Setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.

Tradisi Ngayau (Mengayau)

Tr+dayak+perang

Sama seperti suku Dayak lainnya, Dayak Kayaan yang mendiami Sungai Mendalam Kecamatan Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat juga memiliki adat Ngayo (Ngayau). Adat ngayau ini beda dengan ngayau sungguhan. Namun langkah-langkah mengayau sungguhan jika dibanding dengan adat ngayau, hampir sama. Perbedaan kedua jenis ini terletak pada nyaho’ (burung-burung yang ditunggu masuk ke dalam lingkaran rotan yang membentang sungai). Pada adat ngayo, mereka tidak selalu menunggu nyaho’ karena tergantung situasional. Namun jika mereka hendak berencana mengayau atau menyerang kelompok lain, maka adat ngayu dan nyaho’ mesti dilakukan.

Adat ngayo dilakukan sebagai syarat bahwa tradisi mengayau pada suku Kayaan juga terjadi. Adat ngayo ini dilakukan setiap tahun sebelum dange (pesta ritual padi). Suku Dayak Kayaan yang mendiami Sungai Mendalam sejak ratusan tahun silam yang kini berjumlah sekitar 2.300 jiwa (Data 2005 dari Kades Datah Diaan), dulu berasal dari Apo Kayaan Provinsi Kalimantan Timur ini hidup di rumah panjang. Ketika musim ladang, rumah panjang sepi, tapi ketika musim keramaian seperti dange, pesta pernikahan, kematian dan termasuk upacara adat ngayo maka rumah panjang menjadi ramai.

Adat ngayo ini dikhususkan bagi kaum laki-laki terutama anak muda yang baru menginjak usia remaja, (di atas 10 tahun) dan bukan untuk anak gadis. Bagi anak remaja, adat ngayo ini sangatlah penting karena adat ngayo merupakan upacara adat yang memberi semangat baru bagi kaum remaja, makanya mereka harus terlibat langsung. Dengan maksud agar mereka semakin berani, terutama ketika berhadapan dengan musuh.

Prosesi adat ngayo ini diadakan di mulai dari hulu perkampungan. (Karena kebetulan suku Dayak Kayaan dari dulu hingga sekarang selalu bertempat tinggal di tepi sunggai yang besar). Prosesi acara adat ngayo ini dibagi dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang yang sudah pernah ikut adat ngayo atau sudah pernah dapat kepala musuh. Sedangkan kelompok kedua adalah remaja yang siap ikut bergabung dalam adat ngayo ketika memginjak usia remaja saat itu.

Tato Suku Dayak

tato-dayak

Secara relijius tato bagi masyarakat Suku Dayak pada umumnya, merupakan sebuah ‘obor’ yang akan menerangi perjalanan hidup seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian. Sehingga tidak herang mereka memiliki pemahaman, semakin banyak memiliki tato makan jalan kehidupan mereka semakin terang dan jalan menuju ke alam keabadian semakin lapang. Namun tidak semua Suku Dayak memiliki konsepsi yang sama, bahkan ada dari subsuku Dayak yang tidak memiliki tradisi tato, seperti masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan dan Suku Maanyan di Provinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Barito Timur .

 

Bagi suku Dayak yang bermukim perbatasan Kalimantan dan Serawak Malaysia, misalnya, Tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak Tato di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin ahli dalam pengobatan.  Dan bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya Tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena ada kebiasaan  setiap perkampungan Dayak yang mentradisikan Tato memiliki jenis motif Tato tersendiri bahkan memiliki penempatan Tato tersendiri di bagian tubuh mereka yang merupakan ciri khas suku mereka. Sehingga bagi mereka banyaknya Tattoo menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.

 

Ada pula tato yang menandakan status sosial kebangsawanan di dalam masyarakat Suku Dayak. Seperti di dalam tatanan sosial masyarakat Dayak Kenyah, mereka memiliki tato bermotifkan burung enggang (anggang), unggas khas Kalimantan yang dianggap sebagai raja dari segala burung. Burung tersebut melambangkan kegagahan, keperkasaan, kharisma dan kejayaan. Sehingga tato burung enggang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Sementara bagi Suku Dayak Iban bagi kepala suku dan keturunannya mereka memiliki tato yang bermotifkan ‘dunia atas’ atau sesuatu yang hidup di atas.

 

 

Upacara Tiwah

trunyan

Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia

.
Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).

Ritual Tiwah bertujuan sebagai ritual untuk meluruskan perjalanan roh atau arwah yang bersangkutan menuju Lewu Tatau (Surga – dalam Bahasa Sangiang) sehingga bisa hidup tentram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, Tiwah Suku Dayak Kalteng juga dimaksudkan oleh masyarakat di Kalteng sebagai prosesi suku Dayak untuk melepas Rutas atau kesialan bagi keluarga Almarhum yang ditinggalkan dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa.

Bagi Suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan (penyempurnaan) agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup. Selanjutnya, Tiwah juga berujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan berkeluarga. Pasca Tiwah, secara adat mereka diperkenakan untuk menentukan pasangan hidup selanjutnya ataupun tetap memilih untuk tidak menikah lagi.